Loading...
DHASAM.CO ID - SIMALUNGUN
Tangis darah para sopir dan pemanen di Unit Kebun Gunung Bayu pecah sudah.
Mereka menjerit karena hasil keringatnya dipangkas habis di timbangan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) gunung bayu, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.
Dalam setiap perjalanan, berat Tandan Buah Segar (TBS) yang tercatat di pabrik selalu susut 500 kg hingga 1 ton dibanding hitungan saat muat di afdeling.
"Ini sudah keterlaluan. Kami yang panas-panasan di kebun, tapi hasilnya dipotong seenaknya di pabrik," ungkap salah seorang sopir dengan nada geram kepada DHASAM.CO ID, pada Senin (03/08/2026).
Jika dihitung Kerugian Capai puluhan Ton Per Hari, kerugiannya fantastis.
1 afdeling mengirim 2 hingga 3 truk per hari. Unit kebun gunung bayu punya 9 afdeling. Artinya potensi TBS yang "dipangkas" bisa mencapai 20 hingga 30 ton setiap hari.
"Bayangkan hitungannya, kami sopir dan pemanenlah yang paling dirugikan setiap hari. Padahal sebelum diangkut, kerani produksi setiap afdeling telah menghitung jumlah tandan dan mengalikannya dengan komedil. Hasilnya pasti pas, tapi begitu sampai timbangan pabrik angkanya berkurang terus-menerus," sebutnya.
Para sopir menduga kuat ada "permainan kotor". TBS yang hilang diduga dijual kepada pihak ketiga lewat pemegang Surat Pengantar (SP) lain yang punya akses masuk ke pabrik.
Didesak Copot! Manajer & Maskep Dinilai Gagal
Sorotan tajam kini mengarah ke tiga orang : Manajer PKS Rahyumi Arsa, Masinis Kepala Hamdani Damanik dan Kerani timbang Herman.
Ketiganya dinilai gagal menjaga transparansi dan membiarkan kebocoran terjadi berlarut-larut.
"Jika perhitungan di kebun sudah akurat tapi hasil timbangan selalu berbeda, berarti ada celah yang sengaja dibiarkan. Manajer dan Maskep serta petugas timbang harus bertanggung jawab," tegas perwakilan sopir.
Saat dikonfirmasi, Hamdani berkelit timbangan disegel.
"Gak pernah kami pegang timbangan karena itu di segel, gak berani kami pegangnya. Begitu kira-kira ada keluhan baru kami panggil teknisi, kami panggil metereologi," katanya.
Sementara Rahyumi via WhatsApp juga membantah.
"Malam bg. Sejak dulu tidak ada yg namanya pemotongan sampah dan kotoran," jawabnya.
Bantahan itu justru memantik kemarahan para sopir. "Kalau tidak ada potongan, terus kemana hilangnya puluhan ton itu?" tanya sopir lain.
Desak Dirut PTPN IV Audit Total.
Para sopir mendesak Dirut PTPN IV segera membentuk tim audit dan mencopot Manajer serta Maskep serta petugas timbang PKS gunung bayu yang dinilai tidak becus.
"Pecat saja kalau tidak mampu. Jangan biarkan kami terus dirampok di jalan," tuntutnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Redaksi DHASAM.CO ID masih menunggu hak jawab resmi dari pihak terkait.
Catatan Redaksi: Jika kondisi ini dibiarkan, maka PKS gunung bayu bukan lagi pabrik pengolah sawit. Tapi, sebagai tempat legalisasi pencurian keringat pekerja.
(Dharma Samosir/DHASAM.co id)